Mengais Berkah dari Menumpuknya Sampah

Sampah dimana juga jadi problem. Ironisnya, banyak yang cuma berkoar lantang sama-sama menyalahkan. Cuma sedikit yang menyingsingkan lengan ambil peranan mengatasinya.

Langkah paling akhir tersebut yang dikerjakan sekumpulan orang-orang yang berada di Kelurahan Sudut, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Mereka membangun bank sampah dengan nama Sri Wilis di Perum Wilis II G13. Mereka menginisiasi bank sampah jadi wadah menangani problem persampahan, serta sukses mendayagunakannya. Paling tidak dengan pengelolaan sampah itu, banyak faedah yang saat ini mereka nikmati. Bank sampah itu berdiri 2012 kemarin.

Awalannya cuma dibarengi 21 anggota. Tetapi saat ini jumlahnya makin bertambah menjangkau 448 orang, bersamaan dengan tumbuhnya kesadaran warga sekitaran juga akan faedah yang dibuat.

Pada umumnya, operasional bank sampah, terima kiriman sampah dari warga sekitaran lantas di jual kembali pada pengepul. Bank sampah buka satu minggu sekali yakni hari Sabtu mulai jam 08. 00 WIB sampai jam 11. 00 WIB. Untuk memudahkan administrasi, tiap-tiap anggota diberi buku saku. Buku itu untuk mencatat aliran maupun transaksi sampah. Dari aktivitas simpel ini, rotasi uang menjangkau Rp 1 miliar mulai sejak masa berdirinya.

” Bila saldo sekarang ini sekitaran Rp 200 juta, ” tutur Ninuk Setiowati, pengelola bank sampah Sri Wilis, Sabtu (6/4/2018). Anggota bank sampah bukan sekedar warga sekitaran. Sebagian instansi seperti sekolah, turut ikut serta. Ini yang buat stock sampah di bank ini selalu melimpah. Makin banyak stock, makin tinggi aliran keuangan. Bahkan juga satu bulan menjangkau 1, 6 ton sampah yang bisa dihimpun.

Setiap saat jadwal operasi, jadi juga akan banyak anggota bank sampah yang datang bersama-sama dengan membawa sampah atau barang sisa. Sampah-sampah itu biasanya limbah dari kesibukan teratur mereka sehari-hari. Terlebih berbentuk plastik, kertas, sampai logam. ” Saat ini anak-anak beli minuman enteng, botol, wadahnya tidak dibuang tapi disimpan serta dihimpun, ” tutur Vita Dwi Ernaning, satu diantara anggota bank sampah tentang perubahan tingkah laku keluarganya.

Pengembangan Bank Sampah Bank sampah itu juga memberlakukan program taruh pinjam jadi pengembangannya. Taruh bermakna uang hasil penjualan barang sisa itu disimpan dulu baru di ambil bila ada keperluan. Menaruh ditempat ini cukup untungkan.

Tiap-tiap anggota yang memiliki tabungan, tiap-tiap bulannya ada layanan 1 %. Berarti jumlah tabungannya juga akan jadi bertambah 1 % tiap-tiap bulannya. Walau sekian, ada prasyarat serta ketetapan yang diberlakukan untuk memperoleh layanan menabung sebesar 1 %.

Yakni cukup menolong daya ketekunan kelangsungan bank sampah. ” Prasyaratnya, penabung mesti rajin menimbang (kirim sampah). Bila tidak rajin ya tidak bisa layanan, cuma bisa tabungan pokok saja, ” tutur Ninuk. Ninuk memberikan, hasil uang sampah cukup bermacam. Dari data yang ada, sebagian anggota memakai uang hasil sampah itu untuk penambahan modal usaha sampai penambahan cost pergi haji.

” Untuk bayar listrik dapat juga karna kebetulan kami bekerja bersama dengan PLN, ” paparnya. Sedang sarana pinjam, dapat di nikmati anggotanya. Untuk peminjaman, ada bunga 5 % yang dibebankan pada peminjam serta dibayar dimuka lewat cara dipotong waktu pencairan peminjaman.

Umpamanya pinjam Rp 1 juta, jadi uang yang di terima peminjam juga akan dipotong Rp 50. 000 serta setelah itu peminjam tinggal membayar cicilan pokoknya saja tiap-tiap bulannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *